Jumat, 16 Oktober 2020

Literasi Ep 39 : Mie Lethek Isimewa

Klik link di bawah ini untuk membaca buku cerita bergambar 


Jawab pertanyaan berikut ini dalam buku literasi kamu dengan jawaban lengkap dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan menulis nama lengkap dan kelas di kolom komentar.

1. Siapa nama tokoh utama dalam cerita tersebut?
2. Bagaimana sifat atau watak tokoh utama tersebut?
3. Apa yang ingin diketahui oleh tokoh utama tersebut?
4. Bagaimana cara tokoh utama untuk memenuhi rasa ingin tahunya?
5. Adakah perubahan sikap tokoh utama setelah melihat apa yang ingin diketahuinya itu? Apakah itu?
Kamu juga diwajibkan menyalin jawaban kamu di lembar jawab di bawah ini (klik pada tulisan lembar jawab di bawah ini)





Literasi Ep 38 : Hari Cuci Tangan Sedunia

Hari Cuci Tangan Sedunia dirayakan setiap tanggal 15 Oktober untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mencuci tangan dengan sabun. Menurut UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa), saat ini 40% populasi dunia tidak memiliki akses ke fasilitas cuci tangan.

Mencuci tangan tahun ini telah menjadi pusat perhatian sebagai salah satu cara paling efisien untuk melindungi dari pandemi virus corona (COVID-19) yang sedang berlangsung, memperkuat pesan bahwa kebersihan tangan sama pentingnya dalam mencegah penyakit dan menjaga kesehatan.

Hari ini diperingati untuk mengambil tindakan meningkatkan akses dan praktik cuci tangan pakai sabun sehingga semua masyarakat bersatu untuk menjaga kebersihan tangan dan menghentikan penyebaran COVID-19. Penting bagi setiap orang, di mana pun dan kapan pun untuk selalu mencuci tangan.

Tangan harus dicuci dengan sabun dan air selama 20 detik:

- Setelah membuang ingus, batuk atau bersin.

- Setelah mengunjungi ruang publik, termasuk angkutan umum.

- Setelah menyentuh permukaan di luar rumah, termasuk uang.

- Sebelum, selama dan setelah merawat orang yang sakit.

- Sebelum dan sesudah makan.

Secara umum, Anda harus selalu mencuci tangan pada waktu-waktu berikut:

- Setelah menggunakan toilet.

- Sebelum dan sesudah makan.

- Setelah menangani sampah.

- Setelah menyentuh hewan liar dan hewan peliharaan.

- Setelah mengganti popok bayi atau membantu anak menggunakan toilet.

- Saat tangan Anda terlihat kotor.

Sejarah dan Tema Hari Cuci Tangan Sedunia 2020

Hari Cuci Tangan diinisiasi oleh Gobal Handwashing Partnership dan merupakan kesempatan untuk merancang, menguji, dan meniru cara-cara kreatif untuk mendorong orang agar mencuci tangan dengan sabun. Hari Cuci Tangan Sedunia dirayakan setiap tahun pada tanggal 15 Oktober.

Hari Cuci Tangan Global pertama diadakan pada tahun 2008, ketika lebih dari 120 juta anak di seluruh dunia mencuci tangan dengan sabun di lebih dari 70 negara.

Sejak 2008, para pemimpin masyarakat dan nasional telah menggunakan Hari Cuci Tangan Sedunia untuk menyebarkan berita tentang mencuci tangan, membuat wastafel dan keran di tempat umum, dan mendemonstrasikan keefektivan dan nilai tangan yang bersih.

Sejak itu, Hari Cuci Tangan Sedunia terus berkembang. Hari Cuci Tangan Sedunia didukung oleh pemerintah, sekolah, lembaga internasional, organisasi masyarakat sipil, LSM, perusahaan swasta, individu, dan banyak lagi.

Tema Hari Cuci Tangan Sedunia 2020 adalah "Kebersihan Tangan untuk Semua". Tema tahun ini mengikuti inisiatif global baru-baru ini yang mengajak semua masyarakat untuk meningkatkan kebersihan tangan, terutama melalui cuci tangan dengan sabun.

Tema tahun ini mengingatkan, kita harus mengupayakan akses universal dan praktik cuci tangan pakai sabun untuk saat ini dan untuk masa depan yang sehat. Apa pun peran Anda, Anda dapat merayakan Hari Cuci Tangan Sedunia.

Pandemi COVID-19 mengingatkan kita, mencuci tangan adalah salah satu cara paling sederhana untuk mencegah penyebaran virus apa pun dan memastikan kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan.

Cara Mencuci Tangan yang Benar Menurut WHO

Menurut WHO, mencuci tangan agar bersih menghabiskan waktu sekitar 20-30 detik. Ikuti 7 langkah mencuci tangan yang benar menurut WHO untuk mencegah infeksi virus, kuman, dan bakteri.

1. Basahi tangan dan tuangkan atau oleskan produk sabun di telapan tangan.

2. Tangkupkan kedua telapak tangan dan gosokkan produk sabun yang telah dituangkan.

3. Letakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dengan jari yang terjalin dan ulangi untuk sebaliknya.

4. Letakkan telapak tangan kanan ke telapak tangan kiri dengan jari saling terkait.

5. Tangan kanan dan kiri saling menggenggam dan jari bertautan agar sabun mengenai kuku dan pangkal jari.

6. Gosok ibu jari kiri dengan menggunakan tangan kanan dan sebaliknya.

7. Gosokkan jari-jari tangan kanan yang tergenggam di telapak tangan kiri dan sebaliknya.

8. Bilas dan keringkan. Setelah kering, tangan Anda sudah aman dari bakteri dan kotoran.

Sumber : 

https://tirto.id/hari-cuci-tangan-sedunia-15-oktober-2020-kaitannya-dengan-pandemi-f5Wr


Senin, 12 Oktober 2020

Literasi Ep. 37: Faktor penyebab Banjir, Bukan Hujan Deras?

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia.

Apalagi saat musim hujan sudah tiba, beberapa daerah di Indonesia sudah mulai siaga untuk menghadapi banjir.

Sebenarnya apa faktor penyebab banjir sehingga di Indonesia seringkali mengalaminya? Ayo cari tahu!

Penyebabnya bisa dipicu oleh hujan yang turun memang besar dan menghasilkan air yang banyak.

Sedangkan daya serap tanah yang ada sangat kecil. Hal ini membuat air hujan mengalir ke sungai dan menyebabkan permukaan air naik.

Daya serap tanah yang kecil bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu semakin minimnya daerah hijau yang ditumbuhi pohon. 

Seperti yang kita tahu, akar-akar dari pohon itu membantu untuk menggemburkan tanah sehingga ia bisa banyak menyerap air.

Jadi saat pohon atau tumbuhan lainnya berkurang, maka daerah serapan pun semakin sedikit.

Namun, banjir tetap bisa terjadi walau intensitas hujan tidak besar, lo.

Pada intinya, sebenarnya banjir bukan disebabkan oleh banyaknya air hujan, tapi seberapa besar kemampuan tanah untuk menyerap air dan sungai untuk menampung air.

Dari sini kita bisa tahu kalau penggundulan hutan dan padatnya pemukiman menjadi faktor utama berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air.

Proses Terjadinya Banjir

Air di alam sebagian besar berada di sungai, danau, dan laut. Pada siang hari Matahari bersinar dan menyebabkan penguapan air.

Air sungai, danau, dan laut tentunya juga menguap ke udara dan menjadi awan.

Jadi, awan yang selama ini kita lihat di langit sebenarnya berisi uap air dari proses penguapan.

Awan-awan yang dihasilkan dari proses penguapan ini ditiup angin ke daratan. Nantinya awan ini akan menurunkan uapnya dalam bentuk hujan.

Hujan ini bisa turun di mana saja, bisa di daerah pegunungan, hutan, pemukiman, dan masih banyak lagi.

Air hujan yang turun sebagian akan diserap oleh tanah, inilah proses yang kita kenal dengan infiltrasi. Nantinya air hujan yang diserap ini akan menjadi air tanah.

Namun, tidak semua air hujan bisa diserap oleh tanah. Terutama jika kemampuan menyerap tanahnya kecil.

Air yang tidak bisa diserap oleh tanah ini akan mengalir ke tempat yang lebih rendah dan masuk ke saluran kecil.

Saluran kecil inilah yang nantinya akan membawa air hujan ini kembali ke sungai.

Nah, banjir bisa terjadi saat air yang tidak bisa diserap oleh tanah jumlahnya sangat banyak melebihi biasanya.

Ini akan menyebabkan sungai penuh dan meluap dan menyebabkan genangan air atau yang kita kenal dengan banjir.

Banjir Bisa Berulang

Banjir akan mengalami siklus tertentu yang terus berulang. Hal itu karena banjir merupakan salah satu cara alam untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Karena itulah banjir bisa diperkirakan dan juga diamati, lo. Alat yang digunakan untuk mengamati banjir adalah hidrograf. 

Melalui hidrograf kita bisa mengetahui besarnya debit sungai per satuan waktu. 

Sumber :https://bobo.grid.id/read/082370330/faktor-yang-menyebabkan-banjir-ternyata-bukan-hujan-deras-penyebab-utamanya?page=all

Jawablah pertanyaan berikut ini di buku literasi dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan menulis nama lengkap dan kelas di kolom komentar dibawah

1. Jadi, apa sebenarnya yang menjadi penyebab Banjir?

2. Apa yang kamu ketahui tentang hidrogaf?

Silakan salin jawaban kamu pada kotak jawaban di bawah ini (klik pada tulisan kotak jawaban di bawah ini)


Minggu, 11 Oktober 2020

Literasi Ep. 36: Novel Terakhir Putri

"Kruyuk… kruyuk” berberapa kali Leona mendengar suara itu tepatnya dari perut sahabat di sampingnya.
“Putri lapar ya?” tanya Leona.
“Nggak ah!” jawab Putri.
“Put, kalau kamu lapar mending Aku anterin ke kantin ya, mumpung hari ini jam kosong mau nggak?” tawar Leona
sambil memainkan handphonenya.
Kali ini Putri mengganguk setuju karena suara dari perutnya yang lapar tak bisa ditahan lagi.

Di kantin…
“Putri, kenapa sih kamu akhir akhir ini nggak pernah ke kantin?” Tanya Leona sambil mengunyah mie ayamnya
“Leona, Aku harus menyelesaikan novelku secepatnya!” jawabnya tegas
“Iya deh, tapi tetap jaga kesehatan jangan sampai sakit!” kata Leona sok bijak.
“Iya bos!” jawabku mantap sambil menyerut Air dingin.

Setelah selesai makan dan minum Aku kembali ke kelas, karena pelajaran selanjutnya adalah IPA. Mr. Bryn memasuki kelas 4A untuk pelajaran IPA, ia termasuk guru yang humoris dan ramah.

"Ting.. tiinngg!” bel berakhirnya pelajaran telah berbunyi, seluruh siswa “High School” berhamburan keluar.

“Duh, mana Mama kok belum njemput!” bisikku dalam hati.
“Putri.. Aku pulang duluan!” teriak Leona sambil melambaikan tangan ke arah Putri, Putri membalas lambaian tangan Leona dengan tersenyum, betapa bahagianya Putri mempunyai seorang sahabat sebaik Leona.

Tak lama kemudian Putri dijemput oleh Mamanya menggunakan Mobil.
“Putri, udah nunggu lama ya?” tanya Mama.

Enggak kok Ma, eh Mama kenapa lewat sini?” Tanya Putri balik
“Mama mau ke mall sebentar!” jawab Mama sambil tersenyum kearahku.
“Eumm.. Putri boleh beli juga nggak Ma?” Tanya Putri tiba tiba. Mama hanya memangut-mangut tanda setuju.

Sesampai di Mall, Aku memasuki lorong buku buku dan Mama ke lorong baju. Sebenarnya Aku ingin membelikan buku dairy bergambar Hello kitty dan Bolpoin Hello kitty kepada Leona, karena Leona itu penggemar Hello kitty, hampir seluruh kamarnya bergambar Hello kitty. Setelah Putri keluar dari lorong buku buku, tampak Mamanya juga keluar dari lorong baju.
Setelah selesai belanja mereka berdua pulang.

Sesampai di rumah..
Putri langsung mandi sore dan sholat ashar lalu melanjutkan membuat novel.
“Putri kamu nggak makan dulu?” tanya Mama dari depan kamar Putri.
“Nggak Ma, Putri nggak lapar!” jawab Putri dari dalam kamar. Ia bertekad akan menyelesaikan sebuah novel malam ini. satu lagi Putri ingin novel yang ia buat bisa bestseller

Jarum jam menunjukan pukul 10.00,
Gadis berkulit putih dan berbulu mata lentik itu tak pernah merasa lelah dan mengeluh dengan apa yang ia kerjakan. Dengan semangat yang tinggi akhirnya novel itu ia kirim, tinggal menunggu hasilnya.
Karena matanya yang kusut ingin segera terpejam, akhirnya ia merebahkan badannya ke kasur dan tertidur pulas.

“Kringg…!” jam beker milik Putri berbunyi nyaring. sehingga Putri yang tengah asyik tertidur pulas terganggu dan segera mandi dan menyiapkan buku buku pelajaran.

"Putrii ayo sarapan dulu!” teriak Mama.

“Iyaaa!” jawab Putri sambil berlari menuju ruang makan.
Tidak seperti biasanya, ia tiba tiba memeluk Mama dan Papanya seolah olah ia tidak ingin pergi.
“Putri kamu kenpa?” tanya Papa
Putri hanya menggeleng gelangkan kepala.
“Putri ayo cepat makan nanti terlambat berangkat sekolah loh!” tegur Kak Pinta saat melihat Putri melamun tak jelas.
“Ma, Pa, kak Putri berangkat dulu ya!” Kata Putri lesu.
“Lho, makanannya nggak dihabisin?” tanya Papa
“Nggak pa, Ma, Kak putri berangkat dulu!” teriak Putri sambil berlari menyambar tas ranselnya.
“Deg!” perasaaan Mama tidak karauan, Mama mempunyai firasat buruk tentang semua ini.

Setelah selesai di sekolah kedatangan Putri disambut riang oleh Leona.
“Putrii.. selamat ya, novel kamu jadi bestseller lho!” teriak Leona girang.
“Emang sudah diterbitkan?” tanya Putri lagi
“Iyaa putt!” jawab Leona mantap.

“Trrtrr” Handphone Putri berdering segera ia mengambilnya dari tas ternyata dari pihak penerbit, novel Putri telah menjadi bestsseller.
Sungguh bahagianya bukan kepalang mendengar berita tersebut, karena novel yang selama ini ia buat dengan penuh perjuangan akhirnya menjadi bestsseller.

“Terima kasih Ya Allah engkau telah mengabulkan doa hamba” kata Putri dari dalam hati
“Ciyee yang novelnya jadi best!” goda Leona.
“Apaan sih, btw kamu kok tahu novelku jadi best?” tanya Putri heran.
“Rahasia dong!” jawab Leona sambil tertawa terbahak bahak.
“Uh Leona gitu main rahasia Rahasian mulu!” degusnya.
“Iya, tadi itu viral novel karangan yoona Putri dari High school populer lho, makanya Aku tahu” Terang Leona sambil tersenyum.

“Leona ini ada hadiah khusus untukmu dari Aku!” kata Putri mengeluarkan kotak berwarna pink.
Leona yang keheranan tanpa pikir panjang langsung membukanya ternyata berisi dairy dan bolpoin hello kitty yang ia beli kemarin.
“Wah, makasih banget ya Put!” seru Leona sambil merangkulku.
Aku hanya tersenyum lebar.

Pelajaran pertama Matematika, Mrs. Violet memasuki ruang kelas mereka. dan pelajaran terakhir adalah Bahasa indonesia Mrs. Aneeta guru bahasa indonesia mereka.

Bel tanda pulang berbunyi seperti biasa, anak anak keluar kelas berhamburan. Papa Leona sudah menunggu sejak tadi, tapi Mama belum juga datang.

“Put, Aku pamit dulu ya!” Kata Leona sambil merangkulku.
“Iya, Leona jaga kesehatanya. Putri nggak ingin Leona sakit. Asal Leona tahu Leona adalah sahabat terbaik putri, kalau misalkan Putri nggak ada, Leona Nggak boleh sedih, Nanti Putri ikut sedih.” kata putri sambil terus merangkul Leona seakan tak mau melepaskan Leona
“Iya put, Leona janji tapi Putri nggak boleh tinggalin Leona sendiri, Leona sayang putri!” timpal Leona kali ini air mata dari kedua mata gadis keci itu tak bisa dibedung lagi, semuanya hanyut dalam haru biru.

Leona telah lama meninggalkan Putri sendiri karena ia sudah dijemput oleh Papanya, sedangkan Mama belum menjemput Aku, padahal sebentar lagi hujan deras akan datang.
“Lebih baik Aku Pulang sendiri daripada harus menunggu dengan kehujanan, lagipula pasti Mama ada urusan penting!” gumam putri sambil berlari.

Jarak rumah dengan sekolahku cukup jauh, Aku mengambil jalan pintas menyeberang jalan raya menuju jalan Koala.
Tiba tiba kejadian ini begitu cepat, sebuah mobil Sedan berwarna hitam melaju cepat, seorang gadis kecil berbulu mata lentik/Putri yang tak berdosa itu terlempar, darah merah menyala itu terus keluar dari tubuh gadis itu, pemilik mobil Sedan itu terus mengendarai tanpa bertangung jawab atas apa yang telah dilakukan, sungguh manusia tak punya hati nurani. disela sela itu Keinginan Putri telah terkabulkan, tapi entah bagaimana kondisi
Putri sekarang dapat diselamatkan ataukah…

Cerpen Karangan: Azarine Salsabila

Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-sedih/novel-terakhir-putri.html

Jawablah pertanyaan berikut ini di buku literasi dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan menulis nama lengkap dan kelas di kolom komentar dibawah

1. Menurutmu, bagaimana kondisi putri sekarang?

2. Apa pesan moral cerpen di atas?

Silakan salin jawaban kamu pada kotak jawaban di bawah ini (klik pada tulisan kotak jawaban di bawah ini)


Rabu, 07 Oktober 2020

Literasi Ep. 36 : Trauma

Sudah menjadi tradisi di sekolah. Untuk mengisi liburan akhir semester, Nina beserta teman-temanya mengikuti kegiatan berkemah yang diadakan sekolah. Pagi itu mereka berangkat menggunakan bus. Penuh sukacita mereka bernyanyi bersama menuju tempat tujuan. Di tengah-tengah riuh nyanyian, sayup-sayup Nina menangkap sepintas suara gaduh dari kursi paling belakang.

“Reno jangan! Jangan dilempar!”

Tepat saat Nina akan menengok ke belakang, sebuah benda bercorak hitam legam dan panjang nyaris mengenai kepalanya, benda yang mirip karet selebar dua jari dan sepanjang satu meter itu jatuh begitu saja di samping Nina.

Mata nina membelalak, hatinya berbisik, ular! “Aaaaaaggh…!!” Nina menjerit, kakinya meringkuk naik lalu menutup mata serta seluruh mukanya rapat-rapat.

Yang lain sontak melirik Nina dan tertawa lepas nyaris serempak setelah Reno meraih ular mainan itu dari lantai bus.
“Eh, Nin. Ini cuma ular boongan,” kata reno sambil menahan tawa.
“Bodoooo…! Aku gak mau lihat…!” pekik Nina meronta.

Tanpa komando, hati reno justru liar dan menyodorkan ular mainan itu ke depan Nina, tepatnya sengaja ditempalkan ke tangan mungil Nina.
“Aaaaaaaaaagghhh…!!” Nina berteriak lagi, bahkan lebih histeris dan lebih meronta ketakutan, membuat pak Komar sebagai pembina mereka beranjak menghampiri.

Reno yang menyadari pak komar akan mendekat, segera melejit ke tempat duduknya di belakang.

“Sudah Nina tidak apa-apa, itu hanya mainan.” pak komar mencoba menenangkan dengan menepuk bahu Nina pelan-pelan.

Nina yang merasa sudah terbebas dari ancaman, membuka kedua tangan dan matanya pelan-pelan. Pandanganya lalu memutar, kalau-kalau benda yang menyeramkan baginya itu masih ada di sekitar. Setelah dirasa aman, Nina lantas menarik napas dalam-dalam lalu meringis kikuk menatap pak komar di depanya, “terima kasih pak.”

Hari menjelang siang ketika bus yang mereka tumpangi sampai di lokasi perkemahan. Sesuai perintah dari pak Komar, setiap kelompok yang sudah dibagi wajib mendirikan tendanya masing-masing sebagai tempat untuk berteduh dan beristirahat.

Nina beserta kelompoknya lalu bersiap dan mulai mendirikan tenda. Setelah dirasa semua tenda telah didirikan, pak Komar lantas mengumpulkan semua siswa dan memberikan beberapa penjelasan.

Mereka lalu melakukan kegiatan awal dengan mengumpulkan kayu bakar sebagai bahan acara api unggun nanti malam. Dan sebagai kegiatan keduanya di sore hari, para siswa sibuk menanam bibit pohon sebagai penghijauan di sekitaran lokasi perkemahan tersebut.

Namun di tengah-tengah kesibukan Nina dan kelompoknya menanam pohon, Nina kembali dikejutkan oleh benda yang selalu membuat seluruh badanya ngilu dan bergidik, benda itu tiba-tiba jatuh begitu saja di depan Nina. Nina yang tak menyadari itu mainan hanya bisa menutup matanya dan meronta histeris.

Nina mendadak menangis dan mengejang tak karuan. Lalu tiba-tiba suara Nina yang biasanya melengking kemana-kemana itu seakan hilang dan berhenti di lehernya, menyadari itu kepala Nina mendadak pusing dan berkunang-kunang, pandanganya lalu kabur, sedetik kemudian Nina tak mearasakan apa-apa lagi, Nina terjatuh, lalu gelap.

“Nina…!!”
“Tolooog…!!”
“Pak Komar…!! Toloong…!!

Satu kelompok Nina saling bersahutan berteriak minta tolong dan mengerubungi Nina. Pak Komar dan siswa lainya yang mendengar sontak berlarian mendekat.

Di dalam tenda Nina mulai siuman, teman-teman yang sedari tadi menunggunyapun akhirnya saling menyeringai berucap syukur.
“Alhamdulillah.. Kamu sudah sadar, Nin.” pak Komar tersenyum.
“Nina, ini minum dulu.” salah satu teman kelompok Nina mengulurkan sebotol mineral.
Nina meneguknya sedikit, Namun cukup membuat badan serta kepalanya kembali segar.

“Nina, kamu sepertinya ketakutan sekali melihat ular? Kenapa? Padahal kan cuma mainan.” pertanyaan pak Komar membuat Nina tiba-tiba terdiam sebentar, seperti sedang meningat sesuatu.
“Sa.. saya.. Trauma pak,” terbata dan pelan Nina menjawabnya.
Semua saling tatap, “Trauma?”

Nina mengangguk pelan, “dulu ayah saya meninggal karena digigit ular, pak. Saat itu saya melihatnya langsung, ular itu menggigit kaki ayah di kebun, hingga akhirnya ayah tak tertolong saat di perjalanan menuju rumah sakit. Semenjak itu saya jadi takut kalau melihat ular.” raut Nina tampak sayu, teringat kembali kenangan bersama ayahnya saat di kebun.

“Ya sudah tidak apa-apa. Tapi kamu mau tidak biar trauma kamu sembuh? Biar kamu lebih berani sama ular? Apalagi kalau cuma mainan. Biar gak pingsan-pingsan lagi. Bapak punya caranya… Mau tahu?”
“Mau pak.” jawab Nina bersemangat.
“Caranya bagaimana pak?” Tanya beberapa yang lainya.

Pak Komar lalu menyuruh Reno untuk mengambil ular mainanya. “Baik pak.” jawab Reno semangat. Nina yang mengerti maksud pak Komar langsung mengrenyitkan dahi, “tapi maksud pak Komar berarti saya harus…”

Pak Komar hanya tersenyum dan mengangguk. Saat Reno kembali membawa mainannya itu, Nina tak kuasa menahan ketakutanya lagi, namun dia tak berteriak, dia tahu itu cuma mainan, hanya saja Nina tak mau melihatnya, bahunya lalu bergidik sebelum kemudian langsung sigap menutup matanya rapat-rapat.
Melihat reaksi Nina, pak Komar hanya tersenyum, sedang yang lainya bersahutan tertawa lagi.

“Nina.. Ayo jangan takut, buka matanya, lihat yang bapak pegang ini, pelan-pelan saja, tidak apa-apa. Inget Nina, ini cuma mainan, yang lain juga berani tuh pada megangin. Masa Nina gak berani?”

Lalu Nina menuruti kata pak Komar, Nina membuka matanya dan perlahan mencoba memberanikan diri menyentuhnya, sekali, dua kali, tiga kali hanya dengan telunjuknya, kemudian entah keberanian dari mana, kini Nina dengan kedua tanganya benar-benar telah menyentuh seluruhnya, mengelus dan memegang ular mainan tersebut tanpa ragu dan takut lagi. Lalu senyum dari bibir Nina merekah.

“Tuh kan berani.” pak Komar tersenyum lega.
“Yeei.. Nina udah gak takut ular mainan lagi.” teriak yang lain.

“Nah, ini pelajaran juga buat kalian semua. Kalo punya trauma atau rasa takut dengan sesuatu yang berlebih, obat paling manjur harus dihadapinya. Kita harus berani melawan rasa takut kita sendiri.” pak Komar menjelaskan.
“Iya pak.” semuanya menjawab hampir berbarengan.

“Ya sudah sekarang saya mau tanya, siapa di sini yang takut gelap angkat tangan?” tanya pak Komar sambil tersenyum.
“Saya pak..”
“Saya..”
“Saya..”
Semua bersemangat mengangkat tanganya tinggi-tinggi. Pak Komar mengusap keringat di kening karena kepanasan.

“Kalo begitu biar gak takut gelap lagi harus apa?”
“Harus dilawan pak!” jawab Reno antusias.
“Bagus Reno benar.”

“Ok berarti Nanti malam bapak mau mengobati rasa takut kalian. Siapa yang berani diuji nyali ke kuburan nanti malam angkat tangan?” tanya pak Komar sambil menahan tawa.

Semua mendadak diam, suasananya berubah dingin dan merinding, hanya saling tatap satu sama lain tanpa ada yang berani mengangkat tangan. Wajah merekapun berubah menjadi pucat pasi.

Cerpen Karangan: Owy Ahmad

Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-anak/trauma.html

Jawablah pertanyaan berikut ini di buku literasi dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan menulis nama lengkap dan kelas di kolom komentar dibawah

1. Apa yang membuat Nina trauma pada ular?

2. Apa pesan moral cerpen di atas?

Silakan salin jawaban kamu pada kotak jawaban di bawah ini (klik pada tulisan kotak jawaban di bawah ini)


Selasa, 06 Oktober 2020

Literasi Ep 36 : Hanya dehgan Senyuman

Pagi yang cerah, gadis imut itu membuka pintu rumahnya. Dilihatnya, sekeliling rumah yang tampak asri, seulas senyum tak pernah hilang dari wajah mungilnya.
“Namanya April.” kata seorang ibu memberitahu.
“Namanya bagus ya, anaknya juga cantik.”

Tak heran, gadis imut yang bernama April itu sering diperbincangkan oleh tetangga sekitar. Karena perilakunya yang sopan, tutur katanya yang lembut, membuat orang selalu ingin berada di dekatnya. Tapi, ada saja orang yang iri dan benci kepada April. Ya salah satunya Puput, teman sekelas gadis imut itu.

Pernah suatu kali, April terjatuh ketika mengikuti lomba lari di pelajaran olahraga. Silvi dan teman-temannya menghampiri April dan membantunya untuk berdiri. Lain dengan Puput, ia malah menertawakan April yang berjalan tertatih-tatih dengan di bantu teman-temannya. Lantas, apa yang di lakukan gadis imut itu? Apakah ia marah? Tidak! Gadis imut itu malah memberikan senyuman termanisnya kepada Puput. Kontan, Puput yang sedang menertawainya terdiam setelah melihat senyuman manis April. Ia mendelik kesal, dan langsung meninggalkan April beserta teman-temannya.

Setiap hari, Puput selalu saja mengejek dan mencaci maki April. Tapi, reaksi gadis imut itu terhadap perilaku Puput hanya senyum, senyum, dan senyum. Tak pernah sekalipun ia membalas perilaku Puput

Bel istirahat berbunyi, Silvi mengajak April pergi ke kantin. Di tengah perjalanan, terjadi perbincangan antara mereka.
“April, kamu ngga sakit hati?” tanya Silvi.
“Sakit hati kenapa?” jawab April
“Ya kamu tahu sendirilah, perilaku Puput sama kamu.”
“Oh, itu. Emm, aku ngga sakit hati. Masalahku sama Puput itu aku biarkan seperti air yang mengalir saja.”
Silvi pun tersenyum, seraya berkata “Tahu ga April, kamu itu teman aku yang paaaliinggg beda.”
“Paling beda? Maksudmu?”
“Iya, kamu itu teman aku yang paling sabar, paling baik, pokoknya semua yang bagus-bagus ada di diri kamu.”
“Silvi… Silvi.. Kamu terlalu berlebihan.”
Mereka tertawa bersama. Tapi, ada yang mengganjal di hati di hati April. Apakah dia sebaik yang di katakan Silvi? batin gadis imut itu.

Esok paginya, April datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia menemukan Puput sedang menangis tersedu-sedu di kelasnya.
“Puput” panggil April.
Puput menoleh. Tapi, ia tidak memedulikan April. Puput melanjutkan tangisannya.
“Kamu kenapa Put?” tanya April
“Kakekku.”
“Kakekmu kenapa?”
“Me…ninggal.”
Kata “Meninggal” sudah tidak asing terdengar di telinga gadis imut itu.
“Kamu yang sabar ya…” hanya kata itu yang dapat di katakan April. Puput menoleh, matanya menatap tajam April.
“Apa Pril! Kamu seenaknya saja bilang sabar ke aku. Kamu ga tahu kan rasanya kehilangan seseorang yang di sayang?” jerit Puput.
“Kamu lebih beruntung, Put. Aku kehilangan seluruh keluargaku.” kata April.
“Bohong kamu. Terus siapa yang mengurus kamu selama ini di rumah mewah itu? Pembantu?”
“Itu, orang tua angkatku.”
Puput tersentak kaget. April menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Puput. Kisah di saat gadis imut itu di tinggal oleh kedua orang tua untuk selama-lamanya dan satu persatu keluarganya pun meninggalkannya. Tangisan Puput semakin menjadi-jadi.
“Ma…af.” kata Puput di sela tangisnya.
April membawa Puput ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama-sama, dalam ikatan persahabatan.

Cerpen Karangan: Annida Hasan

Sumber :http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/hanya-dengan-senyuman.html

Jawablah pertanyaan berikut ini di buku literasi dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan menulis nama lengkap dan kelas di kolom komentar dibawah

1. Menurutmu, apa yang membuat April selalu baik hati dan murah senyum, bahkan terhadap yang mengejek dan mencaci makinya?

2. Menurutmu, apa pesan moral dari cerita itu?

Silakan salin jawaban kamu pada kotak jawaban di bawah ini (klik pada tulisan kotak jawaban di bawah ini)


Senin, 05 Oktober 2020

Literasi Ep 35 : Rumah Persinggahan

Sosoknya masih mengembun di benak semua warga. Dari saban hari, aktifitasnya hanya mengumpulkan kamboja, menjemur dan menjual. Pak Suyasa, sudah rabun memang. Tapi tidak ada ragu bahwa ia akan tiba di rumahnya tepat sebelum malam berganti dini hari.

Sudah tiga hari jejak Pak Suyasa tidak membekas di jalan-jalan desa. Tiada lagi jalan yang terlihat bersih. Rumput meninggi di sudut rumah, guguran daun menutupi jalan, kelopak bunga menangis tak terjaga. Menjelang pagi, sosok pria tua ini muncul di ujung candi desa. Ia membawa sebuah sapu dan karung putih dekil. Sapu itu didapatnya dari mengumpulkan sisa tulang janur dan mengikatnya dengan tali dari batang pisang. Tali itupun ia temui di belakang gubuk yang ia bangun sepeninggalan istri tercintanya.

Pak Suyasa akan mulai mendatangi rumah pertama. Tangannya dengan lihai menari memungut guguran kamboja korban cuaca tempo hari. Setelahnya, gundukan sampah dan sisa keringat akan melebur di sudut rumah warga yang didatangi. Seperti biasa, Pak Suyasa akan pamit pergi dan melanjutkan aktifitasnya menjajal atmosfir ke rumah kedua, rumah ketiga, dan rumah-rumah selanjutnya hingga lututnya kaku. Atau, hingga penat di pikiran mengalahkan semangkuk ketela hangat sarapan pagi yang ia kunyah nikmat. Tubuhnya tak cukup kuat menahan terik matahari yang di campur pemanasan global. Ia hanya akan memungut kamboja hingga setengah desa lebih. Lalu, berhenti di sebuah rumah persinggahan.

Rumah itu unik. Atapnya berumbai daun kelapa tua. Dindinganya, menua bermotif guratan alam. Sangat jelas dinding itu dirangkai dari bambu muda yang diperintahkan meliuk dan menindih satu sama lain. Berandanya berkekuatan polesan tanah liat merah yang di ambil dari kali seberang desa. Beranda itu kokoh hingga sekarang. Seseorang pasti menghabiskan beberapa tahun untuk mengkreasikan diri membangun rumah itu. Orang yang menulis lagu balonku ada lima, orang yang menulis lagu pelangi, dan orang sama yang menulis lagu cening putri ayu1. Rumah itu begitu kecil, lahan satu are mungkin cukup untuk membuat tiga sampai empat rumah serupa. Kecil sekali. Rumah itu setidaknya mengetahui kematian Pak Suyasa yang meninggalkan misteri bagi penduduk desa.
“Ia memungut kamboja di pekaranganku, kemarin. Wajahnya biasa saja.” Kata seorang ibu di tengah orang yang berkumpul membicarakan Pak Suyasa.
“Aku sempat memberinya uang lebih. Suamiku lagi gajian.” Sahut ibu lain menimpali.
Perkumpulan itu dilanjutkan hingga malam menjemput mentari untuk ke peraduannya. Sangat banyak opini yang muncul. Ada yang bersua Pak Suyasa meninggal di makan harimau, tersesat di hutan, terpleset ke jurang hingga kena santet secara sengaja.
“Mungkin Pak Suyasa berada dalam rumah persinggahannya. Menjelang senja, ia sempat menyapaku dan menawarkan segelas air.” Kata seorang ibu pemalu di tengah polemik hilangnya Pak Suyasa.
Hanya ada beberapa orang yang acuh kepada saran itu. Yang lain, sibuk merangkai hiperbola untuk diberitakan saat menonton gosip artis, saat berbelanja di pasar, saat kumpul keluarga dan saat-saat lain.

Seminggu pasca tiada kabar dari Pak Suyasa, polemik telah mengudara melebihi gelombang radio nasional. Desa seberang mau tidak mau ikut campur dalam masalah ini. Penyebab yang paling populer adalah Pak Suyasa hilang karena kena santet. Mereka semua sibuk mencari. Bukan apa, hanya memikirkan kemungkinan orang yang memiliki kemampuan di luar nalar tersebut. Beribu nama muncul, tiada tindak lanjut.
Sementara, beberapa orang lain coba mendatangi rumah persinggahan Pak Suyasa. Memang aneh, Pak Suyasa bukanlah siapa-siapa sebelum dirinya hilang di telan bumi. Tiba-tiba, ia meledak bagaikan bakteri yang membelah ratusan kali dalam hitungan menit. Popularitasnya lebih tinggi dari artis retasan youtube. Salah satu dari 4 orang tersebut kebetulan seorang mantri kawakan desa. Orang ningrat. Penyuka misteri. Mereka sampai di rumah itu tengah hari. Beristirahat di beranda dan menenggak beberapa gelas air sembari menyusuri rumah mencari jasad Pak Suyasa. Mungkin mereka masuk ke dalamnya.

Seperginya empat pemuda tadi, desa semakin aneh. Empat orang itu tidak pernah kembali lagi ke rumah mereka. Istri sang mantri menangis sejadi-jadinya mengetahui suami tercintanya bernasib bak Pak Suyasa. Keluarga tiga orang lain juga, tiada bosan mengumbar kesedihan ke berbagai media desa. Mungkin mereka tidak menyangka, sosok yang mereka rengkuh berhari lalu telah tiada. Tapi, itulah hidup.

Berita tentang empat orang yang ikut-ikutan hilang kembali menetas ke semua desa di kecamatan daerah tersebut. Camat daerah yang awalnya hanya ngantor 3-4 jam menjadi rajin musiman. Ia sibuk mengobrol dengan bawahannya. Tentang Pak Suyasa dan empat orang yang hilang terkena santet. Setidaknya, itu yang semua anak buahnya serempak katakan. Entah kapan ia merumuskan pembangunan desa yang makin semraut di terjang moderenisasi. Atau, di serang pergaulan bebas dan penyakit degradasi moral yang menular. Ia lebih senang menghabiskan hari dengan bertukar kabar burung yang tidak jelas riuh rendah dengungnya.

Beberapa warga yang penasaran memutuskan untuk mencari Pak Suyasa, dan empat warga lain yang hilang. Kali ini, mereka membawa senjata tradisional seperti bambu runcing, arit, dan pedang panjang. Mungkin mereka berpikir ada sekelompok kanibal yang menghuni hutan di dekat rumah persinggahan Pak Suyasa. Atau bahkan di rumah itu? Tim SAR mendadak ini bergerak pada subuh hari. Menyusup, mencari kebenaran. Seorang bocah tanpa sengaja ikut menyusup. Menjelang siang hari, bocah itu pulang seorang diri karena di anggap masih bocah. Memang bocah.
“Mereka semua masuk ke dalam rumah kecil itu. Aku di suruh pulang.” Ratap anak kecil itu di dekapan ibunya saat ngerumpi dengan ibu-ibu lain.

Berita buruk kembali melanda desa. Kelompok pemuda itu, lagi-lagi, menghilang tak berbekas. Hilang dengan menyisakan sedih yang entah mengapa tidak lebih dari rasa penasaran warga. Mengundang ribuan pertanyaan lain yang tidak terpecahkan logika macam manapun.

Maka sepakatlah warga desa menyebut orang-orang tersebut hilang di dalam rumah. Sudah sangat jelas, sebelum hilang, jejak terakhir selalu mengarah pada rumah itu. Penduduk makin kalut dan terpaksa mendesak kepala desa untuk bergerak. Kepala desa tentu tak mau kehilangan muka. Ia mengajak seluruh pemuda dan pria dewasa berkumpul di aula desa pada hari minggu. Tujuannya, untuk melakukan pencarian. Hendaknya, kepala desa berpikir tidak akan mungkin seluruh pasukan kali ini –termasuk dirinya- akan hilang. Terlalu banyak. Tersebutlah pasukan besar tersebut bergerak bagaiakan koloni semut yang mencari seonggok roti yang jatuh pasrah menyambut tanah. Rumah persinggahan itu sudah di depan mata mereka. Satu demi satu orang masuk ke dalam rumah itu. Mereka masuk tanpa bertetes ragu bak telah di cuci otak oleh pemimpin, cara tradisional yang menguap lagi.

Betapa terkejutnya Camat mendengar seorang kepala desa dan seluruh pemudanya menghilang. Terkena santet, itulah yang di benaknya. Langsung ia menyuruh supir pribadinya menyiapkan mobil dan segera melaporkan ke Bupati di daerahnya. Tidak mau ambil repot, sang bupati tidak segan-segan melaporan ke gubernur prihal santet yang meresahkan warga tersebut. Pasalnya, warga satu kabupaten telah melupakan untuk apa mereka di kirim Tuhan menuju dunia. Semua warga sibuk mempermasalahkan apa, mengapa, bagaimana dan di mana. Tidak ada pikiran untuk bekerja, tidak ada pikiran untuk sekolah, tidak ada pikiran untuk melakukan kegiatan positif. Pembangunan menurun, sampah menumpuk, pengangguran menular bak virus influenza. Bupati bingung, kompi bantuan dikerahkan menuju lokasi, sementara laporan tentang hilangnya warga satu kecamatan di tempat Pak Suyasa sudah sampai di tangan Bupati. Tidur kini merupakan harta bagi Bupati malang itu.

Tentara kompi bantuan se-kabupaten tidak mendatangkan hasil maksimal. Semuanya hilang tak berbekas debu sekalipun. Bupati tambah bingung dengan kehebatan tukang santet yang bisa mengalahkan pasukan tentara bersenjata lengkap. Gubernur bertindak cepat dengan mengadakan rapat pleno. Hampir seluruh bupati memberi keluhan serupa dari rakyatnya. Kasihan bupati malang tersebut. Beberapa tidak sempat menghapus digit nol dari pajak rakyat dan menyimpan di saku rapat-rapat. Beberapa lain, kehilangan momen untuk mencari daun muda untuk di kunyah nikmat.

Bukti baru di temukan. Sebuah rumah persinggahan di duga sebagai tempat tinggal tukang santet tersebut. Bahkan sumber terpercaya menulis seluruh warga hilang di rumah itu. Bagaimana bisa rumah sekecil itu menampung lusinan orang yang hilang tak berbekas?

Singkat cerita, pemerintah pusat sudah mulai menerima laporan tentang tukang santet dan hilangnya penduduk dan Pak Suyasa. Tim dari intelejen negara bergerak menuju lokasi. Misi memasang CCTV diberi. Misi itu direncanakan sejak jauh-jauh hari.
“Hanya untuk memasang. Dan pergi!” perintah kepala Intelejen kepada anak buah terbaiknya.
Dua orang anak buah tersebut menyusuri tempat yang di tuju. Jalan-jalan kotor, tiada seorang penduduk yang ditemui. Tanah tertutup sampah setinggi lutut. Bau kamboja kering menusuk hidung menerbangkan sukma. Kepala BIN (Badan Intelejen Negara) duduk cemas menanti anak buah kepercayaannya. Pucuk di cinta ulampun tiba. Kedua anak buah itu tiba dengan selamat. Tanpa luka, tanpa cedera. Hanya saja, banyak mozaik yang terlupa oleh mereka. Setidaknya, mereka tidak meregang nyawa.

Sangat sedikit informasi yang bisa di korek dari dua intelejen negara yang selamat. BIN tidak tahu kenapa mereka selamat, dan puluhan intelejen lain tidak kembali pasca misi mereka memeriksa rumah tersebut. Apakah tukang santet tersebut sedang tidak di rumah? Apakah beberapa orang memang tidak masuk dalam kriteria? Entah. BIN menyerah dan melaporkan kepada jajaran kabinet kecuali presiden yang selalu sibuk setiap hari. Setiap waktu. Setidaknya, itu keterangan dari memo singkat di depan pintu ruangan beliau.

DPR mengadakan rapat pleno membahas hal ini. Seminggu penuh rapat itu di gelar, berbagai media meliput pasrah pasca berkurangnya penduduk negara kecil ini secara signifikan. Semua menghilang di rumah persinggahan itu. Kena santet? Setidaknya itu pemikiran yang coba di dukung kaum mayoritas. Rapat tersebut mendapatkan kesimpulan mencengangkan. Untuk menjaga kestabilan negara, maka akan di bentuk undang-undang santet. Betul-betul kontroversional. Setidaknya kalimat dalam pasal tersebut pasti sangat tangguh dan tegas. Hal yang tak terdefinisi kini coba diinterprestasi, bak manusia yang coba menjelaskan Tuhan dalam rangkaian not-not kalimat liris.

Berbagai ahli coba menguji keetisan undang-undang santet tanpa menghiraukan jumlah penduduk yang terus berkurang. Jalan-jalan menuju desa Pak Suyasa akan sangat ramai pada jam tertentu. Rombongan warga bermacam kendaraan melintas. Tak kembali, seorangpun. Padahal desa itu adalah desa paling ujung, bak gang buntu di tengah semraut ibu kota. CCTV menunjukkan sangat banyak orang masuk ke rumah itu. Mereka antri untuk mengobati penasaran yang sudah menembus batas realitas di otak. Tidak jelas apakah CCTV berbohong, akan tetapi tidak ada sebutir debupun yang keluar dari rumah persinggahan kecil itu. Rumah itu kosong, bahkan. Bisa di lihat dari rongga dinding bambu yang agaknya di buat dengan tergesa. Rumah itu bak menampung penduduk satu negara. Apakah rumah itu memiliki jalan rahasia? Kemanakah orang-orang yang telah memasuki rumah itu? Apakah ada suatu tempat di balik tembok bambu keropos itu? Entahlah. Yang terlihat hanya laut luas dan tebing dalam. Rumah itu terletak di atas tebing yang di hantam lautan ganas berhias pemandangan sawah di sekitar rumah uzur itu.

Jam sudah menunjukkan lunch time. Presiden keluar dari peraduannya. Ruang sumpek yang pengap. Betapa bingungnya ia karena semua staffnya tidak ada di tempat. Tidak satupun. Nomor orang-orang kepercayaannya tidak aktif. Berada di luar jangkauan. Ia melangkah ke luar istana yang khusus dibuatkan untuknya. Gedung DPR hendak ia datangi. Terkejutlah presiden mendapati jalan yang lengang, suasana yang sepi, dan kondisi yang begitu tenang. Sangat berkebalikan dari hari normal. Dipercepatnya langkah hingga di gedung DPR. Ia menemukan sebuah surat yang ditujukan kepadanya. Surat tersebut menyatakan bahwa semua anggota DPR menjalankan studi banding ke sebuah desa di ujung pedalaman sana. Sangat jauh. Ia tahu desa tersebut sangat indah, asri dan terkenal seantero jagat. Iapun mengerti kode anak buahnya yang bermaksud plesiran. Mungkin hobi.

Sudah dua jam sang presiden duduk mematung di depan gedung DPR yang kosong. Menunggu manusia menyapanya. Terbalik dari hari-hari sebelumnya. Tiada pesan dan kesan dari orang-orang yang biasanya berebut melindungi dirinya dan tikus-tikus berdasi peliharaannya. Sang presiden terhenyak dan berkata sendiri.
“Betapa bodohnya aku. Mana mungkin ini kenyataan, aku pasti sedang bermimpi.” Secepatnya ia mengambil sedikit kulit pipi dengan kuku panjang yang belum sempat di potong oleh anak buahnya.
Ia merenggut dan mencubit pipinya. Kemudian, ia berteriak keras di negara sunyi itu.
“Awwwwwww! Sakit!”

Keterangan :
1 = Cening Putri Ayu merupakan sebuah lagu bali yang cukup terkenal. Pencipta lagu ini tidak diketahui secara jelas.

Cerpen Karangan: Gede Agus Andika Sani

Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-kehidupan/rumah-persinggahan.html

Jawablah pertanyaan berikut ini di buku literasi dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan menulis nama lengkap dan kelas di kolom komentar dibawah

1. Apa yang tidak kamu mengerti dari cerpen itu? 

2. Menurutmu, apa pesan moral dari cerita itu?

Silakan salin jawaban kamu pada kotak jawaban di bawah ini (klik pada tulisan kotak jawaban di bawah ini)